Didirikan pada tanggal 3 April 1968 di kantor Direktorat Pembinaan Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan nama Yayasan Kesenian Bali Saraswati. Pendirinya adalah komunitas kesenian Bali di Jakarta yang memiliki kepedulian terhadap kesenian Bali. LKB Saraswati mendapat kehormatan pergelaran pertama kali pada tanggal 10 November 1968 dalam forum peresmian pembukaan Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Sejak berdiri telah membuka beberapa kursus tari dan gambelan Bali. Hingga kini telah membina tidak kurang dari 4725 orang penari Bali dan lebih dari 1500 kali mengadakan pergelaran baik di dalam maupun di luar negeri, antara lain ditunjuk untuk mewakili Indonesia dalam Festival Kesenian di Adelaide (1969), Festival Kesenian di Jerman Barat (1972), Asian Collection di Jepang (1989), Perayaan HUT RI di konsulat Jenderal RI di Los Angeles (2001), Pertukaran kebudayaan Indonesia di Beijing (2007). Didalam negeri terlibat aktif dalam pincak peringatan 50 tahun Kemerdekaan RI dan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Penjelajahan diluar kesenian tradisi, seperti bergabung dengan Guruh Gypsi, Swara Mahardika, Gong 2000. Bersama dengan Podjama, grup musik Jazz asal Swiss berkolaborasi membuat sebuah album yang diedarkan di Swiss. Selain itu juga melakukan kolaborasi dengan Richard Marx, Sadao Watanabe, Orkes Symphony Jakarta, Erwin Gutawa Orchestra, Elfa Secioria, Dwiki Dharmawan, Twilite Orchestra, Nusantara Symphony Orchestra memberikan pengalaman budaya yang bervariasi dalam perjalanan kiprah berkesenian LKB Saraswati.

Bersama Kompiang Raka, salah satu pendiri LKB Saraswati yang kini duduk sebagai Ketua sekaligus Direktur Artistik, telah menjelajahi berbagai forum pentas Internasional, antara lain : Australia, Jerman, Perancis, Hongkong, Thailand, Jepang, Cyprus, Malaysia, Belanda, Denmark, Norwegia, Italia, Swedia, Finlandia, Spanyol, Austria, Maroko, Mesir, Yunani, India, Amerika, Singapura, RRC, Korea dan Belgia.

Salah satu ciri khas dari LKB Saraswati dalam  menangkap arti profesionalisme adalah bukan semata- mata konteks financial, namun lebih mengutamakan pada kehidupan bersama ( kebersamaan ), bergaul sekaligus bergulat terhadap kesenian secara terus menerus sebagai sarana guna mencapai perilaku kehidupan yang damai, tulus dan hening, sehingga menghasilkan karya – karya yang berkualitas.